nafsu birahi (part-1)

Aku adalah seorang duda, sudah 2 tahun sejak istriku pergi meninggalkanku dan selama itu pula aku bebas melakukan apa saja, disinilah dimulainya kisahku, petualangan nafsu birahiku!
Pada tahun pertama dalam kesendirianku aku bertemu dan berkenalan dengan seorang gadis keturunan, punya tubuh semampai, kulit putih mulus, rambut lurus sebahu, hidung bangir dan bermata sipit.
Wajahnya cantik mirip artis sinetron "Sandra Dewi", kebetulan pula namanya percis hanya saja sedikit panjang, "Sandra Dewi Fortuna".
Perkenalanku dengannya terjadi ketika aku melakukan perjalanan terbang ke Riau untuk keperluan bisnis, dan kebetulan bangkunya tepat disebelahku.
Disinilah aku terlibat pembicaraan dengannya dan membuat perjalanan ini menjadi tidak membosankan.
Dewi orangnya sangat ramah dan santun, wawasannya sangat luas sehingga banyak yang kami bicarakan dan diskusikan, dan disini pula kuketahui ternyata Dewi adalah seorang Dosen disebuah Perguruan Tinggi Negeri didaerah asalnya.
Dewi berumur kira - kira 26 tahun, masih sangat muda dibandingkan usiaku yang sudah menginjak 34 tahun.
Setibanya di Kota Pekanbaru ibukota Provinsi Riau, aku segera dijemput oleh rekan bisnisku di Bandara Sultan Syarif Kasim II, dan aku segera berpamitan pada Dewi, sebelum kami berpisah aku sempatkan mencatat no. HP nya agar komunikasi selanjutnya tidak terputus.
Hari-hari berikutnya aku terus menghubungi Dewi, menanyakan kegiatan yang sedang dilakukannya ataupun sekadar basa-basi bercerita apa saja yang penting bisa lepas rinduku mendengar suaranya di hand phone.
- - - - - - - - - -
Karena untuk urusan bisnis ini, project di Pekanbaru menunggu sampai kelar memakan waktu hampir 1 tahun maka kebijakan pimpinan perusahaan aku disuruh menetap sementara di Kota ini.
Akupun disediakan perumahan untuk ditempati, juga mobil milik perusahan untuk operasionalku memantau project.
Mau tidak mau suka tidak suka aku terpaksa ikut perintah atasan.
Perumahan yang aku tempati ini posisinya sangat strategis di tengah Kota.
Kalo otakku lelah dan mulai stres aku biasanya nongkrong di "Mall SKA" dekat dengan perumahan tempat aku tinggal.
Selama berada di Kota Pekanbaru, dirumah aku ditemani 2 orang pembantu yang mengurusi keperluanku, seperti memasak, mencuci, menggosok dan bersih - bersih rumah, aku tinggal beres dan perusahaan yang membayar mereka, maklum perusahan tempat aku kerja adalah termasuk perusahan swasta terbesar di negeri tercinta ini.
Walau semua kebutuhanku sudah dipenuhi perusahaan, namun ada satu kebutuhan yang belum terpenuhi yaitu: SEKS!
Sebagai lelaki normal yang pernah merasakan kehidupan berkeluarga, adakalanya muncul hasrat ingin bermesraan dan melakukan hubungan intim dengan pasangan, ini membuat aku kelabakan dan pusing sendiri.
- - - - - - - - - -
Awalnya aku tidak pernah memperhatikan 2 pembantuku ini, aku hanya berbicara seperlunya pada mereka.
Hari-hari ku sudah cukup melelahkan menyelesaikan projectku sehingga tidak memungkinkan untuk sekadar basa-basi dengan mereka.
Memang aku terkesan sedikit sombong tapi peduli apa aku, mereka hanya pembantu.
Ketika hari libur aku tidak kemana-mana, aku ingin bermalas-malasan di rumah.
Kedua pembantuku terdengar lagi asyk ngobrol diruang tengah sambil nonton TV, terdengar riuh ketawa dari keduanya.
"Ada acara apa di TV kok heboh banget?" tanyaku ketika keluar kamar ingin mengambil air minum.
"Ga da pa-pa kok Pak, cuman si Reni yang dari tadi sibuk critain pacarnya mulu yang tinggal disebelah", jawab Yanti.
"Bohong Pak, Mbak Yanti yang pacaran ma tetangga sebelah, katanya baru jadian kemaren", Reni membela diri.
Sebenarnya aku tidak ingin terlibat dalam pembicaraan mereka.
Peduli apa aku mereka mau pacaran dengan siapapun, ga penting buat aku!
Tapi, karena hari ini aku lagi libur kerja, kebetulan emang lagi BeTe sendirian di kamar, akhirnya aku nyamperin mereka coba ikut nimbrung.
Ga ada salahnya juga kalo aku coba peduli dan akrab pada mereka.
"Yang pacaran sebenarnya siapa seh? Reni atau Yanti, kok ga da yang ngaku?" tanya ku sambil meletakkan gelas minumanku diatas meja lalu duduk disamping mereka.
"Mbak Yanti yang pacaran Pak, kalo Reni kan masih kecil ga berani maen pacar-pacaran, takut!" kilah Reni.
"Kok mesti takut-takut, emang Reni umurnya berapa?" tanyaku sambil mengambil remote tv mencari channel berita pagi ini.
"Baru 16 tahun Pak" jawab Reni.
"Kalo Yanti?" tanyaku lagi.
"Bulan depan masuk 23 tahun Pak" jawab Yanti.
"Oh, berarti bulan depan da yang ngrayain ulang-tahun, asyk neh bakal ada yang traktirin" candaku mengedipkan mata pada Reni.
"Iya Pak, asyk neh kita bakal ditraktirin makan" balas Reni menimpali candaku sambil senyum-senyum.
"Tapi, kita ga bakal diajak 'Ren, masalahnya kan Yanti udah punya pacar yang tetangga sebelah itu, siapa namanya?" kulirik Yanti dengan senyum-senyum.
"Bener Pak, pasti Mas Anto yang diajaknya, maklumlah kekasih hati!", timpal Reni lagi.
Kami pun tertawa dan kulihat muka Yanti cemberut, menyembunyikan rasa malunya atas guyonan kami.
Baru kali ini aku memperhatikan tingkah-laku kedua pembantuku dari dekat, ternyata mereka asyk-asyk dan juga lucu-lucu.
Sebenarnya kedua pembantuku ini gadis yang cantik dan sangat menarik, keduanya punya pesona tersendiri, masing-masing punya daya tarik untuk dikagumi pria.
Yanti bertubuh ideal dengan postur 168 cm, berkulit hitam manis, hidung mancung, mata teduh dan sayu, bibir sensual, rambut di potong ala "CAT WOMEN".
Sedangkan Reni walaupun masih sangat muda baru berusia 16 tahun tapi punya body bongsor, tingginya kira-kira 160 cm, dadanya montok bahkan sangat montok, mungkin punya ukuran bra yang 36b, kulitnya kuning langsat, rambutnya panjang melebihi punggungnya, berpinggul lebar, punya pantat besar dan bahenol.
Mereka emang gadis yang sempurna, masih muda-muda dan cantik-cantik.
Kalo saja mereka punya banyak uang dan berasal dari keluarga kaya-raya terus rajin kesalon, berpakaian modis serta didandani sedemikian rupa pasti banyak pemuda yang tertarik dan jatuh hati pada mereka, bahkan akupun akan mengiba-iba berlutut mengharapkan cinta dari keduanya, heee-hee (yobanako!).
"Yanti kalo pas lagi pacaran npaen ja sih?" tanyaku mulai memancing.
"Ga pacaran kok Pak, kita cuman temenan, gian sapa juga yang mau ma dia, kerjaan ga jlas gito, pengangguran!" bantah Yanti padaku.
"Biar pengangguran tapi cakep lho, Mas Anto sering kok maen kemari trus ngobrol-ngobrol di teras depan, trus lagi di buatin minum sama Mbak Yanti, trus lagi mereka jalan-jalan ke Mall" sambung Reni ngledek sambil tersenyum padaku.
"Ke Mall cuman sekali kok, itupun cuman makan angin, ga beli apa-apa cuman nongkrong trus muter-muter karena ga da duitnya, kere banget si Anto!" jawab Yanti penuh emosi.
"Biar kere dan pengangguran tapi Mbak Yanti pasti cinta kan?" goda Reni.
"Makan tuh cinta! lo ajah yang pacaran ma si Anto, kek nya lo naksir ma dia yah?", jawab Yanti sewot dan trus berdiri, lalu nyelonong menuju kamarnya, kulihat dia begitu kesal pada Reni.
- - - - - - - - - -
Sore harinya, ketika aku ingin dibuatkan kopi, segera kupanggil mereka dari kamarku tapi tidak satupun pembantuku yang menyahut.
Tidak terdengar olehku suara mereka, segera saja aku keluar kamar.
Kucari mereka didapur, kucari diruang depan dan dihalaman luar, ga juga kutemukan mereka.
Mungkin kupikir lagi dikamar tidur dan segera kuketuk pintu kamarnya namun tidak ada jawaban dari dalam.
Agak kesal pintu kamarnya kubuka paksa, ternyata tidak dikunci.
Ternyata Yanti lagi berbaring diatas kasur, pulas banget tidurnya, begitu lelap hingga tidak disadarinya aku berada didalam kamarnya.
"Kemana perginya si Reni" pikirku, lalu mataku melotot.
"Oh, pemandangan yang indah" ucapku dalam hati, tertegun memperhatikan paha mulus Yanti yang tersingkap.
Seketika birahiku naik dan nafsuku bangkit menyaksikan tubuh pembantuku ini.
Kuperhatikan dadanya yang montok naik turun seirama dengan hembusan nafasnya.
Mataku semakin lekat menelusuri lekuk-lekuk tubuhnya yang memakai daster tipis transparant.
Aku mulai mendekat dipinggir ranjang, perlahan-lahan daster tipisnya kusingkapkan diatas perut.
Kini terpampang jelas CD berwarna putih, kulihat Yanti tidak terganggu sedikitpun, dia masih tidur dengan pulasnya.
Tanganku mulai meraba, walau masih terbungkus CD putih tapi masih dapat kurasakan kehangatan dari benda setumpuk itu diujung jariku.
Fantastis!!!!
Aku mulai kehilangan kontrol, nafasku sesak.
Darahku mendidih, bukan karena emosi dan amarah, tapi karena aku terangsang, inilah saatnya untuk menyalurkan hasratku, memuaskan nafsuku yang bergejolak.
Bergegas kulepaskan pakaianku, dan kini tanpa benang sehelaipun segera kutindih Yanti.
Yanti kaget, ketika kupeluk dan kuciumi wajahnya bertubi-tubi.
Masih dalam keadaan bingung dan belum sempat mengeluarkan sepatah kata pun, Yanti kuserang dengan ciuman bernafsu.
Bibirnya kuhisap, kusedot, kukenyot sambil sesekali lidahku menelusup kedalam mulutnya dengan liar mengobel-obel kerongkongannya.
Yanti meronta-ronta, mungkin karena merasa ketakutan diperkosa, tapi aku tidak peduli karena kini hanya nafsu yang menguasai diriku.
Daster tipisnya kurobek, BH-nya kutarik hingga putus.
Sambil mendekap tubuhnya erat, tanganku yang satunya lagi menarik paksa CD-nya sampai turun keujung kaki.
Kini seranganku beralih ke "Bukit Kembar", mulutku cepat menjelajahi area seputar bukit kiri dan kanan secara bergantian.
Lidahku lalu menjilati kedua puncak bukit itu tiada henti.
"Bappaakkk!!" teriak Yanti tertahan.
Aku tak peduli, selain serangan pada "Bukit Kembar" nya, jari-jari tanganku juga menyelusup sampai keselangkangan Yanti, daging setumpuk yang ada kacangnya menjadi bulan-bulanan jari-jemariku, lalu kugosok dan kupencet itilnya.
"Ouhhgssh..jjangan Pakk!", Yanti berusaha menolak perlakuan kasarku.
Sumpah, aku tak peduli lagi, aku benar-benar melupakan siapa aku dan siapa gadis ini, otakku hanya berpikir bagaimana aku dapat segera melepaskan hasrat birahiku.
"Sudah, kamu diam saja", jawabku tanpa peduli terus melancarkan serangan.
"Tolong Yanti Pak, Yanti masih suci, keperawanan Yanti hanya untuk suami Yanti kelak, Yanti memohon Pak, tollongg jjang..ngaannn", Yanti memohon padaku lalu menangis.
Aku terdiam tanpa aksi, sedikit timbul rasa penyesalan dan kasihan padanya, aku segera bangkit dan duduk ditepi ranjang.
Kupandangi wajahnya yang lagi terisak, walau masih dalam keadaan menangis tapi masih kulihat kecantikan yang alami diwajah Yanti, sungguh mempesona.
"Maafkan aku Yanti" hanya itu yang terucap dari mulutku.
Yanti memandangku sayu, lalu ku usap air matanya dengan jariku.
Sementara hanya kesunyian yang mengelilingi.
Kamipun saling berpandangan, matanya melekat tajam kearahku.
Dengan keadaan polos seperti ini tanpa busana, aku melihat Yanti begitu anggun, aku benar-benar terkesima.
Aku mendekatkan wajahku ke Yanti, perlahan-lahan kubelai rambutnya dan kuciumi keningnya, dia diam saja.
Kucium pipi dan seluruh wajahnya dengan lembut, kusentuh bibirnya, terlihat Yanti agak tenang, dan perlahan mulai memejamkan matanya.
Kembali lagi kuciumi bibirnya sampai akhirnya diapun membalas ciumanku.
Mulut kami saling berpagut, bibir kami beradu hangat, lidah kami berkutat hebat saling memilin.
"Ouhhgg..sshhhh" desah Yanti.
Jari tanganku mulai menelusuri dadanya, tanganku mencoba meremas pelan-pelan, aku harus bisa bersabar untuk tidak membuatnya takut.
Aku terus memberikan rangsangan agar tidak ada lagi penolakan seperti tadi, irama yang kumainkan berubah perlahan dan penuh kelembutan.
Kami masih saling berciuman, nafas Yanti makin memburu dan mulai tidak beraturan lagi.
Sesekali kuciumi dan kujilati belakang telinganya, kuciumi dan kujilati juga tengkuk dan lehernya, aku terus melakukannya, sengaja terus memberikan rangsangan sampai Yanti benar-benar pasrah.
"Ssshh..oughhh..aaaghh" desah Yanti menerima rangsangan dariku.
Kini ciumanku perlahan mulai turun kearah dada, menikmati kehangatan dua benda kenyal milik Yanti.
Kuciumi seluruh permukaan kedua benda kenyal itu, lalu kujilati masing-masing puncaknya yang berwarna coklat, betapa nikmatnya.
Ciumanku berlanjut perlahan-lahan turun keperut, kusapu dengan lidahku dan terus turun hingga sampai kepangkal paha.
Ketika tiba diselangkangan Yanti, kutemukan belahan yang tertutup rapat dihiasi bulu-bulu yang tumbuh disekelilingnya.
Kuhirup aroma segar dari dalam belahan itu, sangat harum, dia pandai merawatnya, tak kusangka padahal dia hanya seorang pembantu.
Kusibakkan bulu-bulu yang menutupi belahan itu dengan lidahku, dan kurasakan lendir hangat mengalir dari "Sumur" sang "Perawan", rasanya aneh dan asin.
Semakin jauh kutelusuri lekuk-lekuk tubuhnya semakin pula aku kagum akan keindahan dan kemolekannya, aku semakin bernafsu.
"Ssshhhh..oughh..sssh..asshh..ssh..sssshhh" Yanti mendesis-desis dan menggeliat ketika lidahku menyentuh clito-nya.
Yanti sudah benar-benar terangsang dan semakin terbawa arus gelombang birahi yang aku ciptakan.
Sepertinya Yanti sudah tidak peduli dan lupa akan kehormatannya.
Dia tidak menyadari sebentar lagi keperawanannya akan segera kurenggut!
Bahkan sekarang dia malah melenggak-lenggokkan pinggul dan mengangkat pantatnya seolah menghidangkan kepadaku Mrs.V miliknya untuk aku cicipi.
Aku dengan bernafsu terus menciumi Mrs.V miliknya dan terus saja menjilat-jilat dengan rakusnya tanpa henti.
Lidahku kembali masuk kebelahan Mrs.V miliknya sambil terus menusuk pelan dan mencongkel-congkel hingga Mrs.V milik Yanti kebanjiran lendir.
Lidahku terus bermain dan menari menyapu seluruh permukaan Mrs.V milikknya, sesekali kusedot Clito_nya, kugigit dan terus kulakukan sampai membiru dan merekah.
Arus lendir keluar disela-sela belahan Mrs.V, semakin deras dan banyak sekali membuat mulut dan wajahku belepotan.
"Ooughh..ggghhh..ssshh..acchhh..aassshhhhhh" desah Yanti kenikmatan.
Kelihatannya "Sumur Perawan" ini sudah siap ditembus "Tombak Tumpul" milikku.
Segera aku mengarahkan Torpedo besarku, begitu terasa tepat di lobang sasaran segera kuhunjamkan dengan keras.
"Aaagggghhhhhh, sak..kiiittt!!" jerit Yanti spontan.
Tangan Yanti berusaha menahan pantatku menghentikan hunjaman Torpedoku.
Karena Mrs.V miliknya sudah berlumuran lendir kenikmatan, maka dengan mudahnya Mr.P milikku dapat menerobos masuk memecahkan tabir tipis kesuciannya.
Ada sesuatu yang robek!
Ada sesuatu yang terpancar!
Sesuatu yang berwarna merah, mengalir sampai kebawah membasahi seprei.
Kulihat ada darah yang menempel disekitar kemaluannya, darah keperawanannya, akupun tersenyum penuh arti.
Aku benar-benar lepas kendali, nafsuku sudah tidak terbendung lagi.
Torpedoku yang sudah masuk sampai kepalanya kini kucoba lagi untuk membenamkannya lebih dalam.
Memang terasa sesak dan padat, tapi aku tidak mau berhenti sampai disini, birahiku sudah sangat memuncak.
Kucoba lagi mendorong dan terus memaksa Mr.P milikku menghunjam Mrs.V milik Yanti agar semakin terbenam dalam.
Secara paksa aku berusaha menembus kedalaman Mrs.V miliknya, sedikit mulai masuk walau masih belum setengahnya.
"Adduuhh perrihh, tolloongg hentikannn Ppaakk, Yan..ti ga..ku.aatt nahan sakkitt!!" ucap Yanti terbata-bata memohon padaku.
Segera aku menghentikan aksi, kutatap wajahnya.
Aku tahu Yanti sangat menderita kesakitan karena ukuran Mr.P milikku diatas rata-rata orang Indonesia, apalagi Mrs.V miliknya belum pernah tersentuh oleh "Benda Tumpul" siapapun.
Aku merasa senang karena akulah orang pertama yang menikmati tubuhnya, kegadisannya berhasil kurenggut, telah kurobek dengan "Tombak Tumpul" milikku.
Kuciumi bibir Yanti, terasa begitu dingin, dia tidak membalasnya, dia hanya diam saja dan kemudian menangis histeris.
Kucoba menenangkannya dengan membelai rambutnya dan kuucapkan kata-kata manis.
"Sayang, kamu sangat cantik, sebenarnya aku sudah lama mengagumimu, walaupun kamu hanya pembantu dirumah ini tapi aku memandangmu beda, kamu tidak seperti pembantu lainnya, kamu sangat special" bujukku berusaha merayu untuk menenangkan dia.
Yanti memandangku tajam, antara percaya dan tidak, tapi kelihatannya dia senang sekali mendengar pengakuanku, walaupun hanya sekedar gombalanku untuk menenangkannya.
"Gimana kalo aku hamil, apa Mas mau bertanggung-jawab?" tanya Yanti ragu.
"Pertanyaan yang tidak perlu kujawab" pikirku, dan kemudian tersenyum manis padanya.
Aku jadi geli karena barusan tadi mendengar dia memanggilku "Mas", aku tertawa dalam hati.
Kuciumi bibirnya dengan lembut sambil kembali perlahan memulai serangan kembali.
Yanti membalas ciumanku, kulihat ada perubahan dari sikapnya yang mulai mesra dan pasrah.
"Mungkin dia telah termakan gombalanku, dasar pembantu!" pikirku.
Aku coba lagi membenamkan Mr.P milikku kedalam Mrs.V miliknya, mencoba menerobos lubang sempitnya, kucoba dengan tusukan-tusukan keras.
Kulihat Yanti menahan sakit, Mr.P milikku terlalu besar, memang terasa menyesak padat didalam.
"Masih sakit sayang?" tanyaku.
"Masih Mas, sakit banget!" jawabnya.
"Kamu harus bisa nahan sakit, ga bakal lama kok, punya Mas baru masuk setengahnya, mau coba paksain biar bisa terbenam seluruhnya, coba kangkangin lagi yang lebar" perintahku.
Yanti menuruti perintahku, dia mulai membuka kedua pahanya lebar-lebar.
Aku kini dengan leluasa bisa menghunjami kontolku ke lubang memeknya.
"Blesss!!" bunyi kontolku menyeruak masuk dalam vaginanya yang sempit.
Kulihat Yanti menggigit bibirnya menahan sakit, sakit yang teramat sangat! tapi aku tidak peduli.
Aku hentakkan kontolku keras-keras kedalam vaginanya, kudengar Yanti terpekik kesakitan.
"Oughh..ssakkitt Mas, berhen..ti dulluuu!" pekik Yanti memohon padaku.
"Nanggung sayang, dikit lagi kok, punya Mas hampir masuk seluruhnya" jawabku tak peduli.
Kembali aku meneruskan serangan, kontolku terus kupaksakan masuk kedalam vagina Yanti.
Yanti hanya dapat meringis menahan kesakitan, matanya mengerinyit, wajahnya pucat pasi, minta belas-kasihan dariku.
Rasa nikmat yang menjalar dari kelaminku membuatku lupa akan kesakitan Yanti, aku jadi egois.
Semakin kugenjot vagina Yanti semakin muncul rasa nikmat diseputaran kontolku.
Sungguh enak pepek perawan pembantuku yang satu ini, aku jadi sangat bernafsu.
Setelah dengan perjuangan yang panjang dalam aksi kekerasan, akhirnya seluruh batang kontolku dapat menyeruak masuk seluruhnya kedalam memek Yanti.
Kudiamkan sejenak agar Yanti dapat beristirahat dan memulihkan dirinya dari rasa sakit akibat hunjamanku yang bertubi-tubi pada vaginanya.
Kontolku terasa hangat didalam nonok Yanti, seperti ada yang menggelitik dan menghisap-hisap, nikmat sekali rasanya.
Kulihat Yanti mulai tenang, aku tak sabar lagi, segera kugoyangkan pinggulku naik turun, mulai bergoyang pelan dan kuciumi bibirnya.
Yanti membalas ciumanku, lidah kami saling bertaut, kupeluk dia sambil tetap bergoyang dengan ritme yang teratur.
"Masih sakit sayang?" bisikku ditelinga Yanti sambil terus bergoyang.
"Mas..ssihh Mas, tap..pii..ssshhh..ssh..ssh..aassshhhh" jawab Yanti mendesah-desah.
Sambil terus bergoyang kujilat dan kugigit kecil telinganya, kumainkan lidahku disana.
"Tapi apa sayang?" tanyaku lagi sambil terus mempermainkan lidahku diseputar telinganya.
"Taapp..pi enn..nakkk" jawab Yanti malu-malu.
Kupercepat goyanganku, kuciumi bibirnya lalu kujilati lehernya.
Kuangkat tangan Yanti dan kuletakkan disamping kepalanya, lalu kuciumi dan kujilati keteknya dikiri dan dikanan.
Yanti menggelinjang kegelian.
Keteknya licin mulus tak berbulu sedikitpun.
Aroma keteknya membuatku semakin bernafsu untuk terus menggenjotnya, birahiku semakin memuncak, aku semakin buas, goyanganku kupercepat lagi.
Lama kucumbui ketek Yanti, terus kujilati dan kuhirup dalam-dalam aroma khasnya, aku suka banget dengan aroma keteknya.
Ternyata Yanti mulai membalas goyanganku, membalas pelan walau masih kaku dan tidak seirama dengan goyanganku, maklumlah masih perdana, tapi kelihatannya dia mulai menikmati persenggamaan ini.
"Ouggh..sshh..aasshhh, en..naakk, Yan..ti dappett eennaakknya, Mas" Yanti mulai meracau.
"Kamu suka sayang?" bisikku sambil terus menghunjamkan kontolku dengan keras.
Yanti hanya mengangguk dan menarik wajahku dekat kewajahnya.
Lalu diciuminya bibirku dalam-dalam, sepertinya dia hampir sampai.
"Ummm..mmhhh..oumpss..mmm..ummhhhh" Ciuman Yanti pada bibirku semakin lekat dan ganas.
"Aaagghhhhhhhhhhhh!!!!! Yanti melenguh tertahan, dia menegang dan dipeluknya aku erat-erat.
Aku merasakan kontolku tersiram lendir hangat banyak sekali, nonok Yanti terasa berdenyut-denyut dan mengisap-isap kontolku, tubuh Yanti melengkung.
Semakin kuhantam lubang kemaluan Yanti dengan keras, goyanganku semakin kupercepat.
"Plokk..plook, plokk..plook" bunyi suara pergeseran kelamin kami.
"Mass, Yan..ti barus..san piip..pis" kata Yanti.
Aku tersenyum mendengarnya, sambil terus bergoyang kuciumi bibirnya dengan lembut dan Yantipun membalasku dengan hangat dan mesra.
Pendakianku hampir sampai, dan kini terasa kontolku semakin membengkak didalam nonok Yanti.
Kutekan dalam-dalam kontolku, kuhentakkan keras-keras kedalam vaginanya.
Rasa nikmat yang datang diseputaran kontolku semakin menjadi-jadi dan terus mengalir menuju otakku.
Kupeluk erat tubuh Yanti, kubenamkan seluruh batang kontolku didalam nonoknya, dan terasa kontolku mulai berdenyut-denyut.
"Ouugggghh, aagghhhhhhhhhhhh!!!!!" aku mengerang.
"Croooouuuttttt, crooouuutttt, crooottt, croott, crottt!!" kusemprotkan spermaku dalam vagina Yanti, banyak sekali yang keluar sampai melimpah keluar membasahi sprei.
Kulihat Yanti memejamkan matanya, menikmati sisa-sisa kenikmatan yang masih terasa.
Kubiarkan kontolku terbenam didalam nonoknya sampai lemas.
Kupagut bibirnya, lama sekali kami berciuman, dan akhirnya sambil berpelukan kamipun tertidur pulas.
- - - - - - - - - -
tar disambung lagi... (to be continued)
- - - - - - - - - -

3 komentar: